Edisi 22 Oktober 2026Dari lobi sampai grand final.
← Arena PixelEsports

Bagaimana tim esports menghasilkan uang: anatomi pendapatan di balik jersey

Hadiah turnamen hanyalah bagian kecil dari cerita. Sebagian besar pendapatan tim datang dari sumber yang jarang terlihat penonton.

Bagaimana tim esports menghasilkan uang: anatomi pendapatan di balik jersey
Foto: L / Wikimedia Commons (CC BY 3.0)

Ketika sebuah tim mengangkat trofi di grand final, perhatian tertuju pada nilai hadiah yang diumumkan. Bagi orang luar, mudah menyimpulkan bahwa inilah cara tim esports hidup. Kenyataannya, hadiah turnamen bagi sebagian besar organisasi adalah sumber pendapatan yang tidak stabil dan, setelah dibagi dengan pemain, sering kali bukan yang terbesar.

Organisasi esports modern lebih mirip perpaduan antara klub olahraga dan agensi media. Mereka mengelola pemain, membangun merek, memproduksi konten, dan menjual akses ke audiens yang sangat spesifik kepada pihak yang ingin menjangkaunya. Struktur pendapatannya mencerminkan perpaduan ini.

Baca juga: Jendela transfer akhir tahun: masa paling gelisah dalam kalender pemain esports

Sponsor: tulang punggung yang tak terlihat

Sponsor adalah sumber pendapatan paling penting bagi sebagian besar tim. Merek membayar untuk tampil di jersey, di latar belakang siaran, dan dalam konten yang dibuat tim, dengan harapan menjangkau audiens muda yang sulit dicapai lewat media tradisional. Nilainya ditentukan oleh ukuran dan keterlibatan audiens tim, bukan semata oleh prestasi, sehingga tim dengan penggemar setia bisa lebih bernilai daripada tim yang lebih sering menang tetapi kurang disukai.

Jenis sponsor berkembang seiring waktu. Jika awalnya didominasi merek perangkat keras dan penyedia layanan internet, kini merek dari sektor yang tidak terkait dengan game, seperti minuman, perbankan, dan telekomunikasi, masuk karena menyadari audiens esports adalah konsumen masa depan mereka.

Konten, merchandise, dan pembagian hasil

Konten telah menjadi sumber pendapatan yang berdiri sendiri. Pemain dan kreator yang bernaung di bawah organisasi menghasilkan pendapatan dari siaran langsung, video, dan kemitraan, yang sebagian dibagi dengan tim. Bagi beberapa organisasi, divisi kreator konten menghasilkan lebih banyak daripada divisi kompetitif, dan prestasi di turnamen berfungsi sebagai bahan bakar bagi mesin konten itu.

Merchandise menyumbang pendapatan dan sekaligus memperkuat identitas. Jersey, pakaian, dan aksesori menjadi cara penggemar menunjukkan afiliasi, mirip dengan budaya klub sepak bola. Sumber lain yang semakin penting adalah pembagian hasil dari penerbit game, misalnya ketika item kosmetik bertema tim dijual di dalam game dan sebagian pendapatannya disalurkan ke organisasi.

Biaya yang jarang dibicarakan

Di sisi lain neraca, biaya organisasi esports tidak kecil. Gaji pemain dan staf pelatih, akomodasi rumah latihan, perjalanan ke turnamen, produksi konten, dan tim manajemen semuanya membutuhkan dana sebelum satu rupiah pun pendapatan masuk. Inilah sebabnya banyak organisasi bergantung pada investor, dan mengapa tim yang gagal membangun audiens sering tidak bertahan meski prestasinya baik.

Memahami struktur ini mengubah cara melihat esports. Pertandingan di panggung adalah produk, tetapi bisnisnya adalah membangun audiens yang setia dan menghubungkannya dengan pihak yang bersedia membayar untuk perhatian itu. Tim yang memahami hal ini membangun sesuatu yang bertahan melampaui satu musim yang gemilang.

RD
Raka DwipanggaRaka meliput turnamen MOBA dan FPS untuk Arena Pixel sejak 2024, dari babak kualifikasi sampai grand final. Ia terbiasa menonton scrim sampai subuh dan mencatat sendiri draft pick tiap ronde sebelum menulis laporan pertandingan.